Minggu, 31 Oktober 2021

Perancangan produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

 

(LANJUTAN) KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI ( GENDER & TIK )  

 

Disusun oleh

Febby Septiana

Nim: 19005014

Jurusan pendidikan luar sekolah

Fakultas ilmu pendidikan

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

 

Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah bidang yang paling mendapat perhatian dan digeluti banyak pihak. Terutama internet, yang pertumbuhannya menjadi fenomena di hampir semua Negara. Bagi pemula, TIK memberikan kesempatan berwiraswasta dan juga kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan , yang biayanya termasuk murah. Internet juga dianggap memberdayakan perempuan, yang merupakan setengah penduduk suatu negara, bahkan memberikan kemudahan untuk bekerja di tempat sendiri/ dirumah. ( The world bank , Gender & Development Group bulletin, February 2002 , “ICT and Gender” ).

Permasalahan gender muncul apabila kebutuhan khusus untuk perempuan tidak terpenuhi, misalnya kebutuhan untuk pendidikan atau kesehatan sebagai kebutuhan khusus untuk perempuan. Sebagai contoh, kebutuhan kesehatan untuk para ibu dan anak bagi desa yang terpencil, sedangkan infrastruktur TIK tidak bisa mencapainya, ataupun ada kesempatan untuk mengalokasikan infrastruktur TIK kedesa tersebut, tetapi hal ini tidak diputuskan demikian oleh para pengambil keputusan ditingkat tersebut , misalnya karena sebagian besar laki lakilah yang mengontrol budget. Isu gender akan muncul jika masyarakat menyadari bahwa ketidak setaraan adalah salah, tidak bisa diterima, dan tidak adil. Realisasi ini mungkin muncul apabila kesenjangan gender cukup besar, dan apabila perempuan sadar akan hak asazinya dan haknya akan demokrasi.

Dengan oleh sebab itu, pemerintah akan melakukan pemberdayaan kepada para kaum wanita dengan cara melakukan pemberdayaan secara langsung dan menciptakan lapangan kerja melalui teknologi, contohnya dengan menciptakan pasar online dengan menggunakan teknologi yang dipasarkan di media sosial yang diketahui oleh banyak orang.

Minggu, 24 Oktober 2021

PERANCANGAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH


KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI ( GENDER & TIK )  

 

Disusun oleh

Febby Septiana

Nim: 19005014

Jurusan pendidikan luar sekolah

Fakultas ilmu pendidikan

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Pemanfaatan atau pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam program PLS tidak terlepas dari peran sumber daya manusia sebagai pengelolanya. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam pengelolaannya, baik dalam proses perancangan, pemanfaatan maupun evaluasi. Oleh karena itu, penyiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan TIK sangat diperlukan agar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kesiapan SDM dalam mengelola teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk program PLS merupakan syarat bagi seluruh peserta untuk mempersiapkan diri bersama. Mencapai tujuan yang diinginkan.

Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah bidang yang paling mendapat perhatian dan digeluti banyak pihak. Terutama internet, yang pertumbuhannya menjadi fenomena di hampir semua Negara. Bagi pemula, TIK memberikan kesempatan berwiraswasta dan juga kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan , yang biayanya termasuk murah. Internet juga dianggap memberdayakan perempuan, yang merupakan setengah penduduk suatu negara, bahkan memberikan kemudahan untuk bekerja di tempat sendiri/ dirumah. ( The world bank , Gender & Development Group bulletin, February 2002 , “ICT and Gender” ) 

 

Karena teknologi ini begitu  maju dan mempunyai kekuatan besar, sehingga dapat menjembatani kesenjangan digital, dan bahkan mengakibatkan  teknologi menjadi semakin murah, sehingga teknologi ini diharapkan akan sangat bermanfaat bagi kaum miskin. Tetapi jika  teknologi TIK ini tidak dengan cepat  mengikutsertakan kaum marjinal dunia dengan memberikan manfaat utama bagi  mereka,  maka kaum marjinal akan semakin terpinggirkan. Dan karena dinegara berkembang kaum marjinal sebagaian besar adalah perempuan, maka  kecuali dilakukan  usaha untuk menghilangkan kesenjanagan, akan ada resiko bahwa TIK justru akan memperbesar kesenjangan gender dan dampak positif dari TIK justru tidak akan tercapai.

Permasalahan gender muncul apabila kebutuhan khusus untuk perempuan tidak terpenuhi, misalnya kebutuhan untuk pendidikan atau kesehatan sebagai kebutuhan khusus untuk perempuan. Sebagai contoh, kebutuhan kesehatan untuk para ibu dan anak bagi desa yang terpencil, sedangkan infrastruktur TIK tidak bisa mencapainya, ataupun ada kesempatan untuk mengalokasikan infrastruktur TIK kedesa tersebut, tetapi hal ini tidak diputuskan demikian oleh para pengambil keputusan ditingkat tersebut , misalnya karena sebagian besar laki lakilah yang mengontrol budget. Isu gender akan muncul jika masyarakat menyadari bahwa ketidak setaraan adalah salah, tidak bisa diterima, dan tidak adil. Realisasi ini mungkin muncul apabila kesenjangan gender cukup besar, dan apabila perempuan sadar akan hak asazinya dan haknya akan demokrasi. Sebagai contoh, dinegara Afrika yang patriarchal, ketidak adilan sebagian besar adalah terhadap perempuan, dan akan sangat sulit untuk membuat kesetaraan gender sebagai isu jika tidak ada dukungan dari publik disana.

Perhatian dan perlakuan terhadap perempuan dalam industri dan bidang TIK juga perlu dipadukan dengan perhatian terhadap jenis kelamin lain (laki-laki), oleh karena itu perlu juga memasukkan metode berdimensi sosial ke dalam departemen model pengambilan keputusan yang mempengaruhi perempuan TIK. Sebuah kebijakan gender transformatif akan berusaha untuk mengubah ketidaksetaraan yang ada. Masih diperlukan kebijakan gender yang spesifik untuk melindungi satu gender (perempuan) dari gender lain (laki-laki) untuk mencapai tujuan akhir tersebut di atas, yaitu negara dan rakyat yang lebih sejahtera. Pada saat yang sama, kebijakan netral gender tidak akan melihat adanya perbedaan/diskriminasi gender. Kebijakan gender transformatif memberi perempuan alat pemberdayaan yang memberi mereka kesempatan dan kontrol TIK, menentukan jenis TIK apa yang mereka butuhkan, dan merangkum mereka dalam mendukung perempuan untuk mencapai tujuannya.

 

 

 

Kamis, 14 Oktober 2021

PERANCANGAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

 

PERANCANGAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI ( GENDER & TIK )  

 

Disusun oleh

Febby Septiana

Nim: 19005014

Jurusan pendidikan luar sekolah

Fakultas ilmu pendidikan

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Pemanfaatan atau pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam program PLS tidak terlepas dari peran sumber daya manusia sebagai pengelolanya. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam pengelolaannya, baik dalam proses perancangan, pemanfaatan maupun evaluasi. Oleh karena itu, penyiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan TIK sangat diperlukan agar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kesiapan SDM dalam mengelola teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk program PLS merupakan syarat bagi seluruh peserta untuk mempersiapkan diri bersama. Mencapai tujuan yang diinginkan.

Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah bidang yang paling mendapat perhatian dan digeluti banyak pihak. Terutama internet, yang pertumbuhannya menjadi fenomena di hampir semua Negara. Bagi pemula, TIK memberikan kesempatan berwiraswasta dan juga kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan , yang biayanya termasuk murah. Internet juga dianggap memberdayakan perempuan, yang merupakan setengah penduduk suatu negara, bahkan memberikan kemudahan untuk bekerja di tempat sendiri/ dirumah. ( The world bank , Gender & Development Group bulletin, February 2002 , “ICT and Gender” ) 

 

Karena teknologi ini begitu  maju dan mempunyai kekuatan besar, sehingga dapat menjembatani kesenjangan digital, dan bahkan mengakibatkan  teknologi menjadi semakin murah, sehingga teknologi ini diharapkan akan sangat bermanfaat bagi kaum miskin. Tetapi jika  teknologi TIK ini tidak dengan cepat  mengikutsertakan kaum marjinal dunia dengan memberikan manfaat utama bagi  mereka,  maka kaum marjinal akan semakin terpinggirkan. Dan karena dinegara berkembang kaum marjinal sebagaian besar adalah perempuan, maka  kecuali dilakukan  usaha untuk menghilangkan kesenjanagan, akan ada resiko bahwa TIK justru akan memperbesar kesenjangan gender dan dampak positif dari TIK justru tidak akan tercapai.

Permasalahan gender muncul apabila kebutuhan khusus untuk perempuan tidak terpenuhi, misalnya kebutuhan untuk pendidikan atau kesehatan sebagai kebutuhan khusus untuk perempuan. Sebagai contoh, kebutuhan kesehatan untuk para ibu dan anak bagi desa yang terpencil, sedangkan infrastruktur TIK tidak bisa mencapainya, ataupun ada kesempatan untuk mengalokasikan infrastruktur TIK kedesa tersebut, tetapi hal ini tidak diputuskan demikian oleh para pengambil keputusan ditingkat tersebut , misalnya karena sebagian besar laki lakilah yang mengontrol budget. Isu gender akan muncul jika masyarakat menyadari bahwa ketidak setaraan adalah salah, tidak bisa diterima, dan tidak adil. Realisasi ini mungkin muncul apabila kesenjangan gender cukup besar, dan apabila perempuan sadar akan hak asazinya dan haknya akan demokrasi. Sebagai contoh, dinegara Afrika yang patriarchal, ketidak adilan sebagian besar adalah terhadap perempuan, dan akan sangat sulit untuk membuat kesetaraan gender sebagai isu jika tidak ada dukungan dari publik disana.

Perhatian dan perlakuan terhadap perempuan dalam industri dan bidang TIK juga perlu dipadukan dengan perhatian terhadap jenis kelamin lain (laki-laki), oleh karena itu perlu juga memasukkan metode berdimensi sosial ke dalam departemen model pengambilan keputusan yang mempengaruhi perempuan TIK. Sebuah kebijakan gender transformatif akan berusaha untuk mengubah ketidaksetaraan yang ada. Masih diperlukan kebijakan gender yang spesifik untuk melindungi satu gender (perempuan) dari gender lain (laki-laki) untuk mencapai tujuan akhir tersebut di atas, yaitu negara dan rakyat yang lebih sejahtera. Pada saat yang sama, kebijakan netral gender tidak akan melihat adanya perbedaan/diskriminasi gender. Kebijakan gender transformatif memberi perempuan alat pemberdayaan yang memberi mereka kesempatan dan kontrol TIK, menentukan jenis TIK apa yang mereka butuhkan, dan merangkum mereka dalam mendukung perempuan untuk mencapai tujuannya.

 

 

 

Minggu, 03 Oktober 2021

PENGELOLAAN TIK DALAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

 

PENGELOLAAN TIK DALAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH  

 

DISUSUN OLEH:

FEBBY SEPTIANA (19005014)

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


    Pendayagunaan TIK buat pendidikan sesungguhnya adalah galat satu implementasi konsep Teknologi Pendidikan.Teknologi Pendidikan ialah satu disiplin ilmu yg terus berkembang sejalan menggunakan perkembangan teknologi itu sendiri. namun demikian, esensi asal teknologi pendidikan ialah pemecahan dilema pendidikan secara efektif serta efisien. Didalam TIK Proses pembelajaran yg baik ialah proses pembelajaran yg memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri pada keseluruhan proses baik secara mental juga secara fisik. Setiap anak yang belajar harus menyiapkan mentalnya buat benarbenar siap mencari ilmu pengetahuan atau gosip, sedangkan secara fisik, adalah untuk dapat belajar kadang dibutuhkan kehadirannya di kawasan itu.

   Pemanfaatan atau pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam program PLS tidak terlepas dari peran sumber daya manusia sebagai pengelolanya. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam pengelolaannya, baik dalam proses perancangan, pemanfaatan maupun evaluasi. Oleh karena itu, penyiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan TIK sangat diperlukan agar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kesiapan SDM dalam mengelola teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk program PLS merupakan syarat bagi seluruh peserta untuk mempersiapkan diri bersama. Mencapai tujuan yang diinginkan.

    Penerimaan produk TIK yang digunakan dalam rencana PLS oleh masyarakat belajar merupakan respon atau penerimaan yang baik dari warga belajar terhadap penggunaan produk TIK dalam rencana PLS. Penerimaan warga belajar terhadap produk TIK yang digunakan dalam program PLS sering dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: Pengoperasian, yaitu jika pengguna atau warga belajar menemukan sistem informasi yang mudah dipahami dan dioperasikan, maka mereka akan bersedia untuk menggunakannya dan menerima produk TIK. 

    Demikian pula jika warga belajar merasa senang dan dapat membantu mereka dengan mudah menerima informasi yang disampaikan oleh sumber belajar tanpa ada gangguan dengan bantuan atau penggunaan produk TIK, maka mereka akan mengikuti program tersebut.  Begitu juga sebaliknya, jika hal yang terjadi berbanding terbalik dengan di atas, maka kemungkinan besar warga belajar tidak akan mudah menerima produk TIK yang digunakan dalam PLS.

Dapat disimpulkan bahwa kesiapan sumberdaya manusia dalam pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk program PLS merupakan suatu kondisi yang dimiliki oleh semua orang yang terlibat yang bekerja dalam mempersiapkan diri baik secara mental, maupun fisik untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

#PENDIDIKANLUARSEKOLAH

#TIKDALAMPENDIDIKANLUARSEKOLAH

 

PRESENTASI PERANCANGAN PRODUK PERANCANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PLS

  PRESENTASI PERANCANGAN PRODUK PERANCANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PLS KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALA...